Kurikulum Berubah Lagi: Guru Bingung, Siswa Jadi “Kelinci Percobaan”?

Masuk tahun ajaran baru 2026, wajah dunia pendidikan kita kembali diliputi mendung tipis. Bukan karena hujan, tapi karena ada “barang baru” lagi yang harus dipelajari. Kurikulum berubah lagi. Istilahnya berganti, metodenya bergeser, dan buku-bukunya harus dicetak ulang. Di grup WhatsApp guru, notifikasinya beruntun seperti senapan mesin. Isinya seragam: bingung. Harus mulai dari mana? Pakai aplikasi yang mana lagi?

Inilah drama tahunan yang seolah-olah menjadi tradisi di negeri kita. Setiap kali ada pergantian pejabat, atau setiap kali ada “evaluasi” dari pusat, kurikulum dianggap sebagai tersangka utama yang harus segera diganti. Niatnya mulia: ingin mengejar ketertinggalan dari negara tetangga. Ingin mencetak generasi emas 2045. Tapi pertanyaannya, apakah emas itu bisa ditempa jika wadahnya terus-menerus dihancurkan dan dibuat ulang sebelum sempat mengeras?

Guru: Ujung Tombak yang Tumpul karena Administrasi

Kasihan sekali guru-guru kita. Di pundak mereka diletakkan harapan bangsa, tapi di tangan mereka dijejalkan tumpukan administrasi yang tak masuk akal. Belum kering keringat mereka memahami kurikulum yang lama, sudah harus ikut pelatihan (bimtek) untuk kurikulum yang baru. Pelatihannya pun seringkali hanya kulitnya saja. Begitu masuk kelas, mereka masih meraba-raba.

Akibatnya, esensi dari mengajar itu sendiri hilang. Guru lebih sibuk mengisi aplikasi laporan, menyusun perangkat pembelajaran yang formatnya terus berubah, daripada menatap mata siswanya dan memastikan mereka paham apa itu integritas atau logika dasar. Guru di tahun 2026 ini dipaksa menjadi administrator ulung, bukan lagi pendidik yang inspiratif. Jika ujung tombaknya sudah tumpul karena kelelahan administratif, bagaimana mungkin kita bisa menembus dinding kebodohan?

Siswa: Menjadi “Kelinci Percobaan” di Laboratorium Pendidikan

Lalu, bagaimana dengan siswanya? Mereka adalah korban paling nyata. Bayangkan seorang siswa SMP yang di kelas 7 memakai metode A, lalu di kelas 8 ganti metode B, dan saat mau ujian akhir metodenya berubah lagi menjadi C. Fondasi berpikir mereka tidak pernah kokoh. Mereka hanya belajar untuk “selamat” dari ujian, bukan belajar untuk mencintai ilmu pengetahuan.

Istilah “kelinci percobaan” memang terdengar kasar, tapi itulah realitasnya. Pendidikan kita seringkali menjadi laboratorium besar bagi eksperimen-eksperimen kebijakan yang belum teruji secara jangka panjang. Kita terlalu fokus pada “bungkus” atau istilah keren seperti critical thinking atau digital literacy, tapi lupa bahwa tanpa konsistensi, semua itu hanya akan menjadi slogan di spanduk sekolah. Siswa menjadi bingung, kehilangan arah, dan akhirnya memilih cara instan: bertanya pada AI atau mencontek di internet.

Masalah Infrastruktur yang Terabaikan

Mengganti kurikulum itu mudah bagi mereka yang duduk di kantor ber-AC di Jakarta. Tinggal terbitkan peraturan, kirim surat edaran. Tapi coba lihat sekolah-sekolah di pelosok Kalimantan, di pegunungan Papua, atau di pesisir NTT. Internet masih timbul tenggelam, listrik sering mati, dan buku paket baru belum tentu sampai tepat waktu.

Memaksakan kurikulum berbasis teknologi di sekolah yang gedungnya saja hampir roboh adalah sebuah ironi yang menyakitkan. Ada kesenjangan yang makin lebar. Sekolah elit di kota besar mungkin bisa beradaptasi dengan cepat. Tapi sekolah di daerah? Mereka makin tertinggal. Kurikulum baru justru seringkali memperlebar jurang keadilan pendidikan, bukannya mempersempitnya. Kita membangun atap yang mewah, padahal tiang penyangganya masih dari bambu yang lapuk.

Menanti Konsistensi, Bukan Inovasi Instan

Pendidikan itu proses jangka panjang. Hasilnya tidak bisa dilihat dalam satu atau dua tahun. Hasil kurikulum hari ini baru akan terlihat sepuluh tahun kemudian saat siswa tersebut terjun ke masyarakat. Jika kurikulum diganti setiap dua atau tiga tahun, bagaimana kita bisa melakukan evaluasi yang objektif? Kita tidak pernah tahu mana yang benar-benar berhasil dan mana yang gagal.

Kita butuh konsistensi. Kita butuh kurikulum yang “membumi”, yang disusun berdasarkan realitas di lapangan, bukan berdasarkan tren pendidikan global yang belum tentu cocok dengan budaya kita. Biarkan kurikulum itu bernapas. Berikan waktu bagi guru untuk benar-benar menguasainya. Berikan waktu bagi siswa untuk merasakan manfaatnya. Jangan jadikan ruang kelas sebagai panggung politik untuk mencari prestasi instan.

Kembali ke Marwah Pendidik

Pada akhirnya, kurikulum hanyalah alat. Alat yang paling hebat sekalipun tidak akan berguna di tangan orang yang bingung dan lelah. Di tahun 2026 ini, mari kita beri ruang lebih bagi guru untuk kembali pada marwahnya sebagai pendidik. Berikan mereka kepercayaan, kurangi beban administrasinya, dan pastikan kesejahteraan mereka terjamin.

Jika guru sudah nyaman mengajar dan siswa sudah senang belajar, kurikulum apapun sebenarnya tidak akan jadi masalah besar. Karena inti dari pendidikan adalah interaksi antara jiwa yang memberi ilmu dan jiwa yang haus akan ilmu. Mari berhenti menjadikan pendidikan sebagai proyek eksperimen. Kasihan anak-anak kita. Mereka bukan objek uji coba, mereka adalah pemilik masa depan Indonesia yang sesungguhnya.