Pendahuluan
Literasi keuangan adalah kemampuan memahami konsep dasar keuangan – penganggaran, menabung, investasi, utang yang sehat, perencanaan pensiun, dan proteksi risiko – serta menerapkannya dalam pengelolaan keuangan pribadi. Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), literasi keuangan yang memadai bukan sekadar soal kesejahteraan individu; ia berdampak pada kinerja, integritas, dan stabilitas organisasi publik. ASN yang paham keuangan cenderung lebih mampu mengelola gaji, menghindari utang berisiko, memanfaatkan fasilitas pensiun, serta membuat keputusan ekonomi yang tidak menimbulkan konflik kepentingan.
Namun kenyataannya banyak ASN masih memiliki tingkat literasi keuangan yang rendah: pengeluaran melebihi pendapatan, minimnya tabungan darurat, kesalahan investasi, dan kerentanan terhadap pinjaman online berbiaya tinggi. Artikel ini menyajikan pendekatan komprehensif untuk meningkatkan literasi keuangan ASN: mengulas alasan pentingnya literasi, hambatan yang ada, kerangka program intervensi, metode pelatihan efektif, integrasi ke sistem SDM, peran teknologi, mekanisme evaluasi, dan contoh praktik baik. Tujuannya memberikan panduan praktis bagi pembuat kebijakan, unit SDM, organisasi pengelola kepegawaian, serta pengelola program kesejahteraan ASN agar upaya peningkatan literasi menjadi terstruktur, berkelanjutan, dan berdampak nyata.
1. Mengapa Literasi Keuangan Penting bagi ASN
Literasi keuangan bagi ASN penting pada beberapa level: individu, manajerial, dan institusional. Pada level individu, ASN yang memiliki pemahaman keuangan baik mampu menyusun anggaran rumah tangga, menyiapkan dana darurat, memilih produk layanan keuangan yang tepat (tabungan, deposito, asuransi, reksa dana), serta merencanakan pensiun. Hal ini mengurangi stres finansial yang kerap memengaruhi kinerja kerja, absensi, dan produktivitas. ASN yang tidak tertekan masalah finansial lebih fokus menjalankan tugas publik dan meminimalkan potensi perilaku berisiko, termasuk mencoba mencari tambahan penghasilan yang berpotensi melanggar aturan integritas.
Pada level manajerial, literasi keuangan meningkatkan kemampuan pejabat untuk memahami implikasi anggaran, merencanakan alokasi biaya program, serta menilai kebutuhan pembiayaan jangka menengah. Pejabat yang mengerti prinsip dasar keuangan dapat membuat keputusan yang lebih realistis dan efisien dalam pengelolaan program publik sehingga anggaran dipergunakan secara optimal. Keterampilan ini juga membantu komunikasi yang lebih efektif dengan unit keuangan, sehingga perencanaan dan pelaporan berjalan lancar.
Di tingkat institusional, ASN yang melek finansial berkontribusi pada iklim organisasi yang sehat: lebih sedikit kasus penyalahgunaan dana, perencanaan keuangan unit yang lebih baik, dan peningkatan akuntabilitas. Program kesejahteraan pegawai yang dikombinasikan dengan literasi keuangan mendorong stabilitas keluarga ASN dan menurunkan kasus stress related absenteeism yang berdampak pada kinerja pelayanan publik.
Lebih jauh, di era produk keuangan digital dan fintech yang berkembang pesat, ASN rentan terhadap produk-produk berisiko jika tidak punya literasi. Pinjaman online dengan bunga tinggi, investasi cepat yang tidak jelas, hingga skema penipuan bisa merusak financial wellbeing ASN. Literasi keuangan membantu ASN mengenali tanda red flag, melakukan evaluasi risiko, dan memilih produk yang sesuai profil risiko mereka.
Dengan demikian, investasi pada literasi keuangan bukan hanya program sosial semata tapi bagian dari strategi manajemen risiko organisasi. Ini memperkuat integritas, kinerja, dan pelayanan publik – manfaat yang bersifat multiplikatif. Oleh karena itu peningkatan literasi keuangan harus menjadi prioritas dalam program pengembangan SDM ASN.
2. Hambatan Utama Rendahnya Literasi Keuangan ASN
Sebelum merancang intervensi efektif, penting memahami hambatan yang menyebabkan rendahnya literasi keuangan di kalangan ASN. Hambatan ini bersifat multidimensional: kultural, struktural, sistemik, dan psikologis.
- Faktor pendidikan dan pengetahuan.
Banyak ASN-terutama generasi yang lebih tua atau yang tidak berfokus pada bidang ekonomi-tidak menerima pendidikan keuangan formal. Kurikulum sekolah dan perguruan tinggi sebelumnya jarang menekankan pengelolaan keuangan pribadi. Akibatnya mereka tumbuh tanpa kebiasaan menabung, menyusun anggaran, atau memahami produk keuangan. - Akses informasi yang tidak memadai atau tidak terarah.
Informasi soal investasi dan layanan keuangan sering bertebaran namun tidak disaring; ASN mungkin mendapatkan informasi dari sumber yang kurang kredibel, iklan agresif fintech, atau rekan kerja tanpa kompetensi. Ini memunculkan keputusan finansial yang kurang rasional. - Tekanan sosial dan kultur konsumtif.
Dalam beberapa komunitas ASN, ada tekanan sosial untuk mempertahankan gaya hidup tertentu-acara sosial, seragam organisasi, dan kebiasaan memberi-yang mendorong pengeluaran berlebih. Gaji mungkin tampak cukup, namun pola belanja yang tidak disiplin menyebabkan kekurangan likuiditas. - Ketersediaan produk keuangan yang kompleks dan kurangnya proteksi.
Banyak produk investasi memerlukan pemahaman teknis; tanpa pemahaman, ASN bisa terjebak pada produk berisiko atau terkena biaya tersembunyi. Selain itu, layanan perlindungan seperti asuransi jiwa/penyakit masih belum dimanfaatkan optimal walau relevan bagi ASN dengan tanggungan keluarga. - Infrastruktur organisasi yang belum mendukung literasi.
Unit SDM dan unit kesejahteraan pegawai mungkin belum memprioritaskan program literasi, tidak ada anggaran khusus, atau tidak memiliki mitra penyedia materi yang berkompeten. Tanpa dukungan lembaga, inisiatif bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan. - Hambatan psikologis
seperti kecenderungan present bias (memfavoritkan kepuasan hari ini dibanding menabung untuk masa depan), aversi risiko yang salah kaprah, dan stigma membahas keuangan pribadi di lingkungan kerja. ASN mungkin merasa malu mengaku tidak mengerti investasi atau mengelola utang. - Kekhawatiran tentang konflik kepentingan dan integritas.
ASN mungkin ragu mengikuti program literasi yang disponsori oleh penyedia produk keuangan tertentu karena takut dianggap conflict of interest. Oleh karena itu sumber program harus netral dan transparan.
Memahami hambatan ini membantu merancang program yang tidak hanya informatif tetapi juga kontekstual-menggabungkan pendidikan, akses layanan yang aman, dukungan kebijakan internal, serta pendekatan perubahan perilaku yang realistis.
3. Kerangka Program Peningkatan Literasi Keuangan untuk ASN
Kerangka program harus holistik, berjangka panjang, dan terintegrasi ke dalam kebijakan SDM. Berikut komponen inti yang disarankan:
- Visi dan Tujuan Program
Tetapkan visi seperti “ASN yang sejahtera dan bertanggung jawab finansial” serta tujuan konkret: peningkatan skor literasi keuangan, peningkatan rasio tabungan, pengurangan kasus utang bermasalah, dan peningkatan pemanfaatan produk proteksi yang layak. - Target dan Segmentasi Peserta
Segmentasikan program berdasarkan umur, jenjang jabatan, dan kebutuhan: ASN muda (perencanaan karier & nabung), ASN berkeluarga (asuransi, perencanaan pendidikan anak), menjelang pensiun (perencanaan pensiun dan alokasi aset), serta pejabat keuangan (pengelolaan anggaran dan pengelolaan utang program). Segmentasi memungkinkan materi relevan dan efisien. - Konten Kurikulum
Susun modul modular: dasar-dasar penganggaran, manajemen utang, produk tabungan dan investasi dasar, asuransi dan proteksi risiko, perencanaan pensiun (BPJS, dana pensiun), deteksi penipuan finansial dan literasi digital finansial. Tambahkan studi kasus khusus ASN (mis. pengelolaan tunjangan, honor, gratifikasi, dan penghindaran konflik kepentingan). - Metode Pengiriman
Kombinasikan workshop tatap muka, e-learning (LMS), microlearning (video pendek), coaching one-on-one, dan peer-learning (kelompok diskusi). Gunakan gamifikasi untuk engagement dan simulasi anggaran untuk praktik. - Kemitraan dan Sumber
Gandeng lembaga keuangan terpercaya, universitas, konsultan keuangan independen, dan organisasi non-profit literasi keuangan. Pastikan kontrak komersial transparan dan materi bebas pemasaran produk. - Infrastruktur dan Sumber Daya
Anggarkan sumber daya untuk pengembangan materi, platform digital, pelatih, dan monitoring. Bentuk unit pengelola program di biro SDM atau unit kesejahteraan pegawai. - Inisiatif Kebijakan Pendukung
Terapkan kebijakan internal: waktu belajar resmi, cuti singkat untuk pelatihan, insentif sertifikasi, serta kebijakan pengurangan akses pinjaman payroll yang predatory. - Strategi Komunikasi dan Engagement
Kampanye internal via newsletter, grup kerja, dan seminar singkat. Ceritakan kisah sukses (testimoni) sebagai motivator. - Monitoring & Evaluasi
Tentukan indikator kinerja: skor literasi pre-post, persentase ASN dengan dana darurat, rasio utang terhadap pendapatan, jumlah peserta aktif, dan tingkat pemanfaatan asuransi. Jadwalkan evaluasi berkala (6 bulan, 1 tahun).
Kerangka ini memberi peta jalan bagi instansi memulai dan mengevaluasi program. Kunci sukses adalah kesinambungan, dukungan pimpinan, dan pendekatan yang sensitif pada realitas ASN.
4. Metode Pelatihan yang Efektif: From Theory to Practice
Metode pelatihan menentukan seberapa banyak pengetahuan diterapkan. Untuk ASN, pendekatan praktis dan relevan lebih efektif daripada pelatihan teoritik semata. Rekomendasi metode:
- Blended Learning
Kombinasikan e-learning asinkron (modul video, kuis) dengan sesi tatap muka praktikal. E-learning memberi fleksibilitas bagi ASN yang sibuk; sesi tatap muka difokuskan pada simulasi, studi kasus, dan diskusi. - Microlearning
Sajikan konten dalam potongan pendek (5-10 menit) berbentuk video, infografis, atau checklist. Format ini cocok untuk pesan kunci seperti “cara menyusun anggaran mingguan” atau “tanda-tanda pinjaman berisiko”. - Simulasi dan Game Finansial
Buat simulasi anggaran rumah tangga, investasi dan kejadian tak terduga (kebutuhan medis). Game berbasis skenario membantu peserta berlatih keputusan tanpa risiko nyata. - Coaching dan Financial Counseling
Sediakan sesi konseling satu-satu untuk ASN yang butuh rencana personal-mengatasi utang, menyusun rencana pensiun, atau memilih produk proteksi. Konselor harus bersertifikat dan independen. - Peer Learning dan Forum Diskusi
Bangun kelompok kecil (peer groups) yang saling berbagi pengalaman. Pendekatan ini mengatasi hambatan psikologis-anggota merasa normal berdiskusi soal tantangan keuangan. - On-the-Job Learning / Action Learning
Tantang ASN menerapkan rencana anggaran selama 3 bulan dengan catatan transaksi dan refleksi. Presentasi hasil di forum internal memberi akuntabilitas dan dukungan. - Workshop Interaktif dan Studi Kasus
Gunakan studi kasus yang relevan dengan konteks ASN-misalnya manajemen gaji tidak tetap, pengelolaan honor, atau penerapan kebijakan pensiun. Case-based learning mempercepat transfer pengetahuan. - Pelatihan untuk Penyuluh Finansial Internal
Latih volunteer atau “financial ambassadors” dari internal biro SDM yang mampu memberikan bimbingan dasar kepada rekan. Model ini meningkatkan jangkauan program. - Evaluasi Berbasis Kompetensi
Gunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan; sertifikasi internal dapat memotivasi partisipasi.
Pelaksanaan metode harus memperhatikan jam kerja ASN, memberikan opsi online, dan menjaga kerahasiaan data finansial personal. Selain itu, materi harus non-komersial dan netral untuk menghindari konflik kepentingan. Dengan metode yang memadukan teori, praktik, dan dukungan personal, literasi keuangan akan lebih cepat berubah menjadi perilaku nyata.
5. Integrasi Literasi Keuangan ke dalam Sistem SDM dan Benefit ASN
Agar program literasi berkelanjutan, integrasikan ke dalam siklus manajemen SDM dan sistem benefit. Langkah integratif meliputi:
- Memasukkan Literasi ke dalam Induksi Pegawai Baru
Modul dasar pengelolaan gaji, BPJS, manfaat pensiun, dan tata cara klaim asuransi harus menjadi bagian dari orientasi pegawai baru. Ini memastikan sejak awal pegawai memahami fasilitas dan kewajiban finansial mereka. - Kaitkan Pelatihan dengan Pengembangan Karier
Beri kredit pelatihan dalam penilaian kompetensi atau sebagai salah satu prasyarat kenaikan pangkat/ promosi. Ini menambah motivasi formal bagi ASN mengikuti program. - Skema Insentif dan Reward
Beri insentif bagi pegawai yang menyelesaikan modul literasi (mis. tunjangan kecil, sertifikat, prioritas dalam program pembiayaan rumah). Reward memperkuat perilaku belajar. - Produk Benefit yang Didesain untuk Menunjang Literasi
Susun paket benefit yang memudahkan: payroll savings (otomatis potong gaji untuk tabungan), program kredit lunak yang transparan, produk asuransi kelompok dengan edukasi cara klaim, dan fasilitas perencanaan pensiun. Fitur otomasi membantu mengatasi kelemahan self-control. - Kebijakan Manajemen Utang
Terapkan aturan internal terkait peminjaman via payroll, batas maksimal, dan persyaratan. Edukasi pegawai terhadap risiko pinjaman berbunga tinggi (pinjol) dan tawarkan alternatif resmi jika perlu. - Fasilitas Konseling Keuangan Karyawan
Integrasikan layanan konseling finansial ke dalam paket kesejahteraan pegawai (EAP – Employee Assistance Program). Konselor menangani perencanaan serta masalah utang sensitif secara rahasia. - Penguatan Tata Kelola dan Etika
Sampaikan prinsip menghindari konflik kepentingan dan tata cara menerima hadiah/gratifikasi dalam konteks keuangan pribadi. Literasi juga harus menekankan etika finansial. - Monitoring Anggaran Rumah Tangga ASN sebagai Indikator Kesejahteraan
Secara agregat, unit HR dapat memonitor indikator kesejahteraan (tanpa data pribadi) seperti persentase partisipasi tabungan, tingkat pemanfaatan benefit, dan jumlah kasus utang bermasalah untuk merancang intervensi. - Kolaborasi dengan Manajemen Keuangan Institusi
Sinkronkan program literasi dengan kebijakan fiskal institusi (mis. cuti, tunjangan, pembayaran). Koordinasi ini mencegah pesan yang kontradiktif.
Integrasi ke sistem SDM menjadikan literasi keuangan bukan program ad-hoc tetapi bagian dari budaya organisasi. Ketika kebijakan, benefit, dan proses HR mendukung perilaku finansial sehat, perubahan perilaku akan lebih mudah terjadi dan bertahan.
6. Peran Teknologi dan Platform Digital dalam Literasi Keuangan ASN
Teknologi memiliki peran ganda: sebagai alat edukasi dan sarana layanan keuangan. Penggunaan teknologi yang tepat dapat mempercepat jangkauan, personalisasi, dan monitoring program literasi.
- Learning Management System (LMS)
Bangun atau manfaatkan LMS internal untuk modul literasi: video, kuis interaktif, forum diskusi, dan tracking progress. LMS memungkinkan pembelajaran asinkron sehingga ASN dapat belajar sesuai waktu luang. - Aplikasi Simulasi Keuangan
Aplikasi mobile yang mensimulasikan penganggaran, perencanaan investasi, dan manajemen utang membantu ASN berlatih secara aman. Simulasi bisa menampilkan berbagai scenario: kelahiran anak, pemutusan kerja, atau kebutuhan kesehatan. - Microlearning via Chatbot dan Pesan Singkat
Kirim tips harian via WhatsApp atau chatbot: “3 langkah buat dana darurat”, atau “apa itu inflasi?” Format pendek meningkatkan retensi. - Dashboard Monitoring Agregat
Dashboard untuk unit HR menampilkan statistik partisipasi, skor literasi rata-rata, dan indikator kesejahteraan anonim. Data ini membantu menentukan intervensi terfokus. - Platform Konseling Digital
Tele-counseling untuk financial coaching memberikan kemudahan akses dan kerahasiaan; pengguna bisa booking sesi tanpa meninggalkan kantor. - Sistem Payroll Automation untuk Tabungan dan Investasi
Fitur payroll deduction memudahkan ASN menabung rutin, membayar premi asuransi, atau menabung pensiun. Automasi mengatasi masalah self-control. - Keamanan Data dan Privasi
Implementasi teknologi harus memperhatikan aspek keamanan data personal. Kebijakan proteksi data, enkripsi komunikasi, dan kontrol akses sangat penting agar ASN percaya memanfaatkan platform. - Keterbatasan Infrastruktur
Perhatikan kesiapan infrastruktur: akses internet stabil, perangkat di kantor, dan literasi digital. Sediakan opsi offline (modul PDF) untuk area terbatas koneksi. - Kolaborasi dengan Fintech Edukasi Non-komersial
Bila menggandeng pihak eksternal, pilih mitra yang menyediakan materi edukatif netral, bukan pemasaran produk. Perjanjian kerja sama harus mencantumkan klausul non-pemasaran dan perlindungan konflik kepentingan.
Pemanfaatan teknologi meningkatkan efisiensi dan personalisasi program literasi keuangan ASN. Namun teknologi hanya alat; kombinasi dengan interaksi manusia (coach, peer) tetap kritikal untuk perubahan perilaku yang mendalam.
7. Pengukuran Dampak dan Evaluasi Program
Pengukuran dampak diperlukan untuk mengetahui efektivitas program literasi. Evaluasi harus mencakup aspek output (partisipasi), outcome (perubahan pengetahuan dan perilaku), dan impact jangka panjang (kesejahteraan finansial, stabilitas kerja). Rekomendasi evaluasi:
- Tentukan Indikator Utama (KPIs)
- Output: jumlah peserta, jumlah modul selesai, tingkat penyelesaian kursus.
- Outcome: perubahan skor literasi (pre-post test), proporsi ASN yang memiliki dana darurat, persentase yang mengurangi utang berisiko.
- Impact: penurunan kasus financial stress yang dilaporkan, peningkatan rasio tabungan terhadap pendapatan, dan pengurangan ketergantungan pada pinjaman berisiko.
- Metode Evaluasi Kombinasi
Gunakan kuantitatif (survei, data administratif payroll) dan kualitatif (focus group, wawancara mendalam). Triangulasi memperkaya pemahaman. - Desain Evaluasi Pre-Post dan Kontrol jika Mungkin
Lakukan pengukuran sebelum dan setelah intervensi. Jika memungkinkan, gunakan kelompok pembanding untuk mengestimasi efek program lebih valid. - Pengukuran Perilaku Nyata
Selain pengetahuan, ukur perilaku: rasio tabungan otomatis, frekuensi pembayaran premi asuransi, dan pengurangan pembayaran bunga pinjaman. Data ini sering tersedia di sistem payroll atau laporan internal. - Monitoring Berkala dan Dashboard
Laporan triwulanan memantau implementasi dan memudahkan penyesuaian. Dashboard membantu visualisasi tren partisipasi dan outcome. - Evaluasi Kualitas Program
Nilai kepuasan peserta, relevansi materi, kualitas fasilitator, dan hambatan implementasi. Feedback peserta membantu refine materi. - Pengukuran Jangka Panjang
Lakukan follow-up 6-12 bulan untuk melihat apakah perubahan perilaku bertahan. Literasi yang hanya meningkatkan skor pengetahuan tapi tidak mengubah tindakan tidak cukup. - Pelaporan dan Transparansi Hasil
Laporkan hasil evaluasi ke pimpinan dan peserta; gunakan hasil untuk mendapatkan dukungan anggaran dan kebijakan lanjutan. - Belajar dari Data
Gunakan temuan untuk menyempurnakan segmentasi, metode pengiriman, dan materi. Dokumentasi best practices mendukung replikasi di unit lain.
Evaluasi yang sistematis memastikan program literasi keuangan ASN bukan aktivitas satu kali tetapi investasi yang terukur dan berkelanjutan.
8. Studi Kasus dan Praktik Baik: Contoh Implementasi
Memberi contoh konkret membantu organisasi memvisualisasikan implementasi. Berikut contoh praktik baik yang dapat diadaptasi oleh instansi pemerintah:
- Program “Sejahtera ASN” – Modul Komprehensif
Sebuah instansi merancang program tahunan berjenjang: modul dasar untuk ASN baru (pengelolaan gaji & benefit), modul keluarga (perencanaan pendidikan anak), dan modul pensiun. Program mengombinasikan e-learning, workshop tatap muka, dan konseling. Hasil: 70% peserta meningkatkan skor literasi dan 45% melaporkan peningkatan tabungan rutin. - Payroll Savings & Emergency Fund
Unit SDM mengimplementasikan opsi pemotongan gaji otomatis untuk tabungan darurat dengan tingkat fleksibel. ASN mendaftar sukarela dan dapat mengakses dana setelah periode tertentu. Pengalaman menunjukkan peningkatan rasio dana darurat dan penurunan pinjaman kilat. - Financial Ambassadors
Beberapa instansi membentuk “financial ambassadors” di tiap unit yang dilatih intensif. Mereka menjadi titik awal konsultasi rekan kerja, memfasilitasi sesi kelompok, dan menyebarkan tips microlearning. Model ini meningkatkan penetrasi program di lapangan. - Kampanye Literasi Digital & Anti-Pinjol
Kampanye yang menyoroti risiko pinjaman online predatory melalui video pendek dan poster internal. Kombinasikan dengan akses ke alternatif kredit resmi (kredit karyawan atau koperasi pegawai). Hasil mengurangi adopsi pinjol berisiko. - Integrasi dengan Program Kesejahteraan
Program sinergi dengan layanan kesejahteraan (EAP) menyediakan layanan konseling finansial gratis untuk ASN berisiko. Kasus utang dan stress finansial menurun setelah intervensi. - Kolaborasi dengan Universitas
Mitra akademis membantu merancang modul berbasis bukti serta melakukan evaluasi impart. Kolaborasi ini menambah kredibilitas program dan akses riset. - Simulasi Pensiun Interaktif
Aplikasi yang menghitung proyeksi dana pensiun membantu ASN merencanakan alokasi aset. Bila menunjukkan gap, ASN diarahkan ke workshop perencanaan pensiun.
Praktik-praktik ini berhasil ketika didukung komitmen pimpinan, anggaran, dan kebijakan yang memudahkan partisipasi. Adaptasi pada konteks lokal (ketersediaan benefit, demografi pegawai) adalah kunci sukses replikasi.
Kesimpulan
Meningkatkan literasi keuangan ASN adalah investasi strategis yang menghasilkan manfaat ganda: memperbaiki kesejahteraan individu dan memperkuat kinerja institusi publik. Upaya yang efektif harus holistik-menggabungkan pendidikan berbasis bukti, metode pembelajaran praktis, dukungan kebijakan SDM, pemanfaatan teknologi, kemitraan netral, serta mekanisme evaluasi yang ketat. Program yang berkelanjutan, tersegmentasi berdasarkan kebutuhan, dan didukung pimpinan serta anggaran memiliki peluang berhasil lebih tinggi.
Kunci operasional adalah membuat literasi keuangan menjadi bagian normal dari siklus hidup ASN-mulai induksi, pengembangan karier, hingga persiapan pensiun-dengan alat bantu seperti payroll savings, konseling, dan platform pembelajaran. Dengan pendekatan yang sensitif pada hambatan kultural dan psikologis serta penilaian dampak yang konsisten, literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan tetapi perilaku yang tertanam. Hasilnya: ASN lebih tenang secara finansial, lebih fokus pada tugas publik, dan organisasi yang lebih tangguh. Mulailah dari langkah kecil, terukur, dan konsisten-karena akumulasi perubahan kecil akan menghasilkan transformasi besar dalam jangka panjang.